*
lalu jejak pelangi kian samar
tersapu kaki senja
langit berpamit pada awan
memasuki pintu malam
tinggal kita yang masih berdiri
melepas itu semua pergi
*puisi balasan rame-rame dengan teman-teman Buma
(puisi postingan Om Henry)
Mei 2011
Bissmillahirrahmanirrahim...Ya Allah semoga Engkau membuka hatiku seluas samudera untuk sabar dan ikhlas menyelami Samudera CintaMu yang maha luas dengan ilmuMu dan keridhaanMu dan kelak angkatkan aku dari tempat paling rendah menuju surgaMu tempat paling indah yang dihuni setiap hambaMu yang saleh dan salehah...Amin Ya Allah Ya Robbal 'Alamin
Senin, 06 Juni 2011
Re: Menyembah
*
Tuhan mengibarkan nama
ketika jemarimu melambai
dari puncak stupa
sunyi mengetuk pintu candi
doa memelukmu di hening samadi
biarkan waktu tetap menandainya
sebagai rahasia
lelaku yang kau dermakan
di jalanNya
*Puisi balasan rame-rame dengan teman-teman Buma
(puisi postingan Om Henry)
Mei 2011
Tuhan mengibarkan nama
ketika jemarimu melambai
dari puncak stupa
sunyi mengetuk pintu candi
doa memelukmu di hening samadi
biarkan waktu tetap menandainya
sebagai rahasia
lelaku yang kau dermakan
di jalanNya
*Puisi balasan rame-rame dengan teman-teman Buma
(puisi postingan Om Henry)
Mei 2011
Selasa, 05 April 2011
Rumah Cinta
Telah kubangun sebuah rumah
di dalam lubuk paling rahasia
untuk nanti kita tempati bersama
dengan naungan atap rindu semata
telah pula kuanyam tikar-tikar kesetiaan
tempat berbaring hati kita yang bertautan
sembari mendekap mimpi di keheningan
meretas benang-benang sepi di kesunyian
lalu kita rimbunkan sebuah taman
sarang bagi kekupu dan kekumbang
mencecap serbuk sari kasmaran
menetesi kita madu cinta yang terkenang-kenang
____________
Jakarta, 23 Maret 2011 (18 Rabi’ul Akhir 1432 H)
di dalam lubuk paling rahasia
untuk nanti kita tempati bersama
dengan naungan atap rindu semata
telah pula kuanyam tikar-tikar kesetiaan
tempat berbaring hati kita yang bertautan
sembari mendekap mimpi di keheningan
meretas benang-benang sepi di kesunyian
lalu kita rimbunkan sebuah taman
sarang bagi kekupu dan kekumbang
mencecap serbuk sari kasmaran
menetesi kita madu cinta yang terkenang-kenang
____________
Jakarta, 23 Maret 2011 (18 Rabi’ul Akhir 1432 H)
Di Perjalanan Ini Aku Tersedu
Memasuki perjalanan ini
kududukkan kata-kata
di bangku-bangku yang tertata
:melajulah doa-doa
di kiriku trotoar dan halte-halte
mulai kulewatkan
di kananku nasib dan takdir
tak henti berkejaran
di depanku rambu-rambu adalah waktu
namun dari belakangku
jejak-jejak merintih ngilu
:menagih pertanggungjawabanku
meneruskan perjalanan ini
tubuh telah berlumut debu
hati terus tersedu
:maha duka mengejarku
Jakarta, 02 april 2011 (Rabi’ul Akhir 1432 H)
kududukkan kata-kata
di bangku-bangku yang tertata
:melajulah doa-doa
di kiriku trotoar dan halte-halte
mulai kulewatkan
di kananku nasib dan takdir
tak henti berkejaran
di depanku rambu-rambu adalah waktu
namun dari belakangku
jejak-jejak merintih ngilu
:menagih pertanggungjawabanku
meneruskan perjalanan ini
tubuh telah berlumut debu
hati terus tersedu
:maha duka mengejarku
Jakarta, 02 april 2011 (Rabi’ul Akhir 1432 H)
Re: Pesan Suara
“Petang” *
Konon suara-suara merubung rembang petang
entah kidung burung-burung yang pulang
pun bisikan-bisikan halus para mambang
seperti pesan-pesan para orang tua
bergegaslah kita menutup pintu dan jendela
guna menggenapi senja yang runduk berdoa
Jakarta, 01 April 2011 (Rabi’ul Akhir 1432 H)
*Puisi balasan buat teman kekom
Konon suara-suara merubung rembang petang
entah kidung burung-burung yang pulang
pun bisikan-bisikan halus para mambang
seperti pesan-pesan para orang tua
bergegaslah kita menutup pintu dan jendela
guna menggenapi senja yang runduk berdoa
Jakarta, 01 April 2011 (Rabi’ul Akhir 1432 H)
*Puisi balasan buat teman kekom
Re: Metamorphosis
“Kupu-kupu”*
Dan di cabang-cabang rimbun
di pucuk-pucuk dedaun
ibuku merajut palung
lalu menempatkanku dalam kandung
hingga tiba angin senja
membuat ibuku merapalkan doa
janinku pun mekar
semakin membesar
lalu ibuku melahirkanku dengan
peluh dan tangisan sabar
kemudian melepasku terbang
membuahi sari cinta dari kembang ke kembang
Jakarta, 01 April 2011 (Rabi’ul Akhir 1432 H)
*Puisi balasan buat teman kekom
Dan di cabang-cabang rimbun
di pucuk-pucuk dedaun
ibuku merajut palung
lalu menempatkanku dalam kandung
hingga tiba angin senja
membuat ibuku merapalkan doa
janinku pun mekar
semakin membesar
lalu ibuku melahirkanku dengan
peluh dan tangisan sabar
kemudian melepasku terbang
membuahi sari cinta dari kembang ke kembang
Jakarta, 01 April 2011 (Rabi’ul Akhir 1432 H)
*Puisi balasan buat teman kekom
Rabu, 30 Maret 2011
Menuju Batas Arah
dari pangkal arah
derap hati menghela lungrah
dari utara lembah
angin memikul jutaan desah
lajur pematang mengukur larik sawah
pasangan petani tepekur menanami kisah
di lantai-lantai tanah
anak-anak memimpikan sekolah
di lubuk periuk nasi tinggal setengah
dan ikan-ikan belum lah singgah
dari rumah ke rumah
menuju batas arah
pintu langit pecah
:menyambut segala yang tengadah
Jakarta, 29 Maret 2011 (24 Rabi’ul Akhir 1432 H)
derap hati menghela lungrah
dari utara lembah
angin memikul jutaan desah
lajur pematang mengukur larik sawah
pasangan petani tepekur menanami kisah
di lantai-lantai tanah
anak-anak memimpikan sekolah
di lubuk periuk nasi tinggal setengah
dan ikan-ikan belum lah singgah
dari rumah ke rumah
menuju batas arah
pintu langit pecah
:menyambut segala yang tengadah
Jakarta, 29 Maret 2011 (24 Rabi’ul Akhir 1432 H)
Bersepi di Mimpi
Dari setangkai sunyi
mekarlah sekelopak sepi
mengabarimu perihal mimpi
mimpi yang serupa kelana burungburung
merubung pagi hingga petang menabur kidung
dari akar malam
tumbuhlah batangbatang kelam
merimbuni relungrelung suram
lalu dari cungkup samudra ombak menggulung
deru angin menajamkan beliung
melesatkan sepi memintasi lembah dan gunung
menuju puncak tertinggi:
tempat bagi segala mimpi dan nyeri bergantung
Jakarta, 17 Maret 2011 (12 Rabi’ul Akhir 1432 H)
mekarlah sekelopak sepi
mengabarimu perihal mimpi
mimpi yang serupa kelana burungburung
merubung pagi hingga petang menabur kidung
dari akar malam
tumbuhlah batangbatang kelam
merimbuni relungrelung suram
lalu dari cungkup samudra ombak menggulung
deru angin menajamkan beliung
melesatkan sepi memintasi lembah dan gunung
menuju puncak tertinggi:
tempat bagi segala mimpi dan nyeri bergantung
Jakarta, 17 Maret 2011 (12 Rabi’ul Akhir 1432 H)
Re: Sosok Itu
Namun masih ada satu pintu
yang kutinggalkan untukmu
bukalah
Di sana kenangan telah kutanam
menjadi buah
petiklah
Ia akan menghidupimu
memberimu mimpimimpi baru
bangkitlah
Mimpi yang akan mengantarmu
menatah sejarah
yang pernah patah
*Puisi balasan rame-rame teman2 Buma (puisi asli fairtale862000)
Jakarta, 30 Maret 2011 (25 Maret 1432 H)
yang kutinggalkan untukmu
bukalah
Di sana kenangan telah kutanam
menjadi buah
petiklah
Ia akan menghidupimu
memberimu mimpimimpi baru
bangkitlah
Mimpi yang akan mengantarmu
menatah sejarah
yang pernah patah
*Puisi balasan rame-rame teman2 Buma (puisi asli fairtale862000)
Jakarta, 30 Maret 2011 (25 Maret 1432 H)
Re: Melawan Hujan
lalu dari matamu
biji hujan berjatuhan
meraut sepinya waktu
menupang hampa dan rindu
*Puisi balasan rame-rame buma (puisi asli Mas Khamid Istakhori)
Jakarta, 30 Maret 2011 (25 Rabi'ul Akhir 1432 H)
biji hujan berjatuhan
meraut sepinya waktu
menupang hampa dan rindu
*Puisi balasan rame-rame buma (puisi asli Mas Khamid Istakhori)
Jakarta, 30 Maret 2011 (25 Rabi'ul Akhir 1432 H)
Re: apakah cinta ini?
seperti kau menunggu balasan
dari pesan yang kau kirimkan
dag..dig..dug
dag...dig...dug
sebelum kemudian
akankah kau teruskan
dalam rasa cemas juga harapan
karena kau akan ikut hanyut
gelombang pasang surut
*Puisi balasan rame-rame buma (puisi asli my Mus Art)
Jakarta, 30 Marte 2011 (25 Rabi'ul Akhir 1432 H)
dari pesan yang kau kirimkan
dag..dig..dug
dag...dig...dug
sebelum kemudian
akankah kau teruskan
dalam rasa cemas juga harapan
karena kau akan ikut hanyut
gelombang pasang surut
*Puisi balasan rame-rame buma (puisi asli my Mus Art)
Jakarta, 30 Marte 2011 (25 Rabi'ul Akhir 1432 H)
Re: Teman
Dan tibalah musim itu
bumi diselimuti salju, katamu
hanya wajah-wajah dingin
dalam mantel-mantel tebal berbulu
berkelebat ke segala arah
mencari anggur yang tumpah
*Puisi balasan rame-rame dengan teman2 Buma (puisi asli Naz: Teman)
Jakarta, 30 Maret 2011 (25 Rabi'ul Akhir 1432 H)
bumi diselimuti salju, katamu
hanya wajah-wajah dingin
dalam mantel-mantel tebal berbulu
berkelebat ke segala arah
mencari anggur yang tumpah
*Puisi balasan rame-rame dengan teman2 Buma (puisi asli Naz: Teman)
Jakarta, 30 Maret 2011 (25 Rabi'ul Akhir 1432 H)
Rabu, 23 Februari 2011
Kepada Para Sufi
Adakah yang lebih muram
dari wajah langit yang mengusung
kematian
hingga jemari malam tergetar menimang
seribu luka menggenang
luruh
kedalam cungkup subuh
adakah yang lebih duka
dari sebuah kidung nestapa
ketika zikirmu menelusup lamat jantung pasir
dan seribu taman cinta merangkummu
kedalam cungkup-cungkup takdir
dimana bisa kutangkup isyarat agung
yang kau toreh di helai sorbanmu
memahat rapat batu-batu sunyi
melesatkan wangi kidungmu
ke cungkup yang paling tinggi
matahari adalah seri suci
dan kidungmu adalah nubuat
yang terberkati
Jakarta, Syawal 1431 H
dari wajah langit yang mengusung
kematian
hingga jemari malam tergetar menimang
seribu luka menggenang
luruh
kedalam cungkup subuh
adakah yang lebih duka
dari sebuah kidung nestapa
ketika zikirmu menelusup lamat jantung pasir
dan seribu taman cinta merangkummu
kedalam cungkup-cungkup takdir
dimana bisa kutangkup isyarat agung
yang kau toreh di helai sorbanmu
memahat rapat batu-batu sunyi
melesatkan wangi kidungmu
ke cungkup yang paling tinggi
matahari adalah seri suci
dan kidungmu adalah nubuat
yang terberkati
Jakarta, Syawal 1431 H
Selasa, 22 Februari 2011
Tawanan Cinta
air mataku kian luruh
hatiku telah jatuh
ke lembah cintaMu ya Rabbi
segala luka
kidung nestapa
memburai gemulai kedalam cahaya
melesat bersama matahari
menukilkan seri abadi
aduhai rindu
betapa keras kuketuk pintumu
telah tandas kusesap candumu
awan-awan putih
embun-embun jernih
adalah syair cinta yang dalam kugali
dari cungkup sukma
yang paling bersih
hingga betapa aku merasa malu
seperti bidadari
tertawan birahi
di altarMu ya Rabbi
Jakarta, Syawal 1431 H
hatiku telah jatuh
ke lembah cintaMu ya Rabbi
segala luka
kidung nestapa
memburai gemulai kedalam cahaya
melesat bersama matahari
menukilkan seri abadi
aduhai rindu
betapa keras kuketuk pintumu
telah tandas kusesap candumu
awan-awan putih
embun-embun jernih
adalah syair cinta yang dalam kugali
dari cungkup sukma
yang paling bersih
hingga betapa aku merasa malu
seperti bidadari
tertawan birahi
di altarMu ya Rabbi
Jakarta, Syawal 1431 H
Hujan Senja
Terperangkap pada silap
matamu yang jingga
lantas kuberkaca
menekuri tubuhku
yang hanya berupa butiran-butiran kecil
namun sanggup menitisi pundakmu
yang semula ungu
kini menjadi biru
serupa kuncup perdu
yang malu
menahan usapan getar
jemariku
lantas di tepian samudra sana
wajahku bersujud
mencium kening laut
hingga dari gerbang dadaku
perlahan membuka
sebuah taman cahaya
yang kau panggil bianglala
Jakarta, 22 Februari 2011 (19 Rabi’ul Awal 1432 H)
matamu yang jingga
lantas kuberkaca
menekuri tubuhku
yang hanya berupa butiran-butiran kecil
namun sanggup menitisi pundakmu
yang semula ungu
kini menjadi biru
serupa kuncup perdu
yang malu
menahan usapan getar
jemariku
lantas di tepian samudra sana
wajahku bersujud
mencium kening laut
hingga dari gerbang dadaku
perlahan membuka
sebuah taman cahaya
yang kau panggil bianglala
Jakarta, 22 Februari 2011 (19 Rabi’ul Awal 1432 H)
Pelangi
Asal muasal warnamu adalah matahari yang bersarang di pelupuk hujan yang datang.
Lalu malaikat berkelebat dalam kilat, mendekap doadoa yang terucap, melesatkannya ke palung samudra. Menyuling rerupamu dalam balutan kecantikan sebegitu rupa,
melampaui tujuh kerling cahaya.
Dan aku, hanyalah seonggok kepiting. Bersarang dan berbaring di dada karang dan liang-liang hening, tak lelah mengejarmu hingga ke ujung samudra. Dimana ombak berderak sedia mendamparkanku, mencelupkan nadi cintaku ke lekuk tumitmu hingga menjadi ungu, serona malu,
di pipi senja.
Walau tak kumungkiri kau tidak akan mengerti. Bagaimana perjuanganku menggapaimu. Lantaran aku begitu jauh tersembunyi. Tersembunyi di tubir mimpi, di gigir sepi, melubangi karang menjadi liangku sendiri.
Sementara kawanan burung dari manyar, camar hingga kelelawar, tak hentihenti mengejar dimana pangkalmu berdiri dan lengkungmu menepi.
Melambaikan kelezatan rindu yang seperti tak pernah usai
bagiku
dan bagi mereka yang telah sampai
beruluk salam pada pantai.
Jakarta, 8 Desember 2010 (02 Muharam 1432 H)
Lalu malaikat berkelebat dalam kilat, mendekap doadoa yang terucap, melesatkannya ke palung samudra. Menyuling rerupamu dalam balutan kecantikan sebegitu rupa,
melampaui tujuh kerling cahaya.
Dan aku, hanyalah seonggok kepiting. Bersarang dan berbaring di dada karang dan liang-liang hening, tak lelah mengejarmu hingga ke ujung samudra. Dimana ombak berderak sedia mendamparkanku, mencelupkan nadi cintaku ke lekuk tumitmu hingga menjadi ungu, serona malu,
di pipi senja.
Walau tak kumungkiri kau tidak akan mengerti. Bagaimana perjuanganku menggapaimu. Lantaran aku begitu jauh tersembunyi. Tersembunyi di tubir mimpi, di gigir sepi, melubangi karang menjadi liangku sendiri.
Sementara kawanan burung dari manyar, camar hingga kelelawar, tak hentihenti mengejar dimana pangkalmu berdiri dan lengkungmu menepi.
Melambaikan kelezatan rindu yang seperti tak pernah usai
bagiku
dan bagi mereka yang telah sampai
beruluk salam pada pantai.
Jakarta, 8 Desember 2010 (02 Muharam 1432 H)
Pitutur Padi
Semula aku adalah benih
yang kau semai dengan doa-doa lirih
lalu hujan jatuh berderak
mengajak cangkulmu menyalami sawah sepetak
tak kutemu musim melangkah mundur
namun tidak denganmu kala tandur
hingga kau pun rela bergelung dalam saung-sinung menjagaku
dari sergapan hama wereng hingga belitan benalu
agar tubuhku mumpuni tumbuh merunduk meninggi
merunduk meninggi menaungi isi
mangajar ilmu hidup yang hakiki
yang sabar kau hirup lewat harum jerami
lalu musim berganti
Tuhan me-rahmati
mengisi celung lesungmu
dengan biji-bijiku yang serupa bentuk
benih-benih yang kau semai
dengan serbuk-serbuk doa yang tawadu’
Jakarta, 05 Januari 2010 (29 Muharram 1432 H)
yang kau semai dengan doa-doa lirih
lalu hujan jatuh berderak
mengajak cangkulmu menyalami sawah sepetak
tak kutemu musim melangkah mundur
namun tidak denganmu kala tandur
hingga kau pun rela bergelung dalam saung-sinung menjagaku
dari sergapan hama wereng hingga belitan benalu
agar tubuhku mumpuni tumbuh merunduk meninggi
merunduk meninggi menaungi isi
mangajar ilmu hidup yang hakiki
yang sabar kau hirup lewat harum jerami
lalu musim berganti
Tuhan me-rahmati
mengisi celung lesungmu
dengan biji-bijiku yang serupa bentuk
benih-benih yang kau semai
dengan serbuk-serbuk doa yang tawadu’
Jakarta, 05 Januari 2010 (29 Muharram 1432 H)
Menuju Subuh
Telah Engkau rengkuh
kami kedalam malamMu
yang teduh
lalu Engkau buai kami
dengan lantunan tembangtembang mimpi
bertasbih bersama langit-bumi
berzikir bersama dedaun
merajut butiran embun
untuk bersama
kami menziarahi subuh
tempat bersuci bagi segala ruh
dan tempat segenap dosa-dosa kami
bersimpuh….
01 Februari 2011 (Shofar 1432 H)
kami kedalam malamMu
yang teduh
lalu Engkau buai kami
dengan lantunan tembangtembang mimpi
bertasbih bersama langit-bumi
berzikir bersama dedaun
merajut butiran embun
untuk bersama
kami menziarahi subuh
tempat bersuci bagi segala ruh
dan tempat segenap dosa-dosa kami
bersimpuh….
01 Februari 2011 (Shofar 1432 H)
Kidung Kahuripan
Elingo marang sing gawe urip lan patimu
sanadyan priyayi iku dadi trah sliramu
sing kawit alit di among pambayun
ojo banjur gedhe sopo siro sopo ingsun
ora ono pangkat tur drajat
sing bisa mumpuni ing lelakuning diri
anamung iman, taqwa ugi luhuring budhi
sing sejatining bakal dipun tampi
dening Gusti Allah ingkang maha penyipat
ing sedayaning dumadi…
‘Ashar, 02 Maret 2009
sanadyan priyayi iku dadi trah sliramu
sing kawit alit di among pambayun
ojo banjur gedhe sopo siro sopo ingsun
ora ono pangkat tur drajat
sing bisa mumpuni ing lelakuning diri
anamung iman, taqwa ugi luhuring budhi
sing sejatining bakal dipun tampi
dening Gusti Allah ingkang maha penyipat
ing sedayaning dumadi…
‘Ashar, 02 Maret 2009
Pergi
Aku telah berjanji bahwa suatu hari nanti aku akan pergi. Meninggalkan waktu, percakapan, dan juga sepi. Dan aku akan menepati janjiku itu seperti hati yang tak pernah mendustai. Jangan cemaskan tentang putih, hijau, dan ungu. Warna langit dan taman-taman persinggahanku.
Karena mereka tak kan merasa kehilangan. Karena telah cukup mereka memberiku naungan. Dan tentang segala yang ada padaku nanti juga kulepaskan.
Seperti halnya mimpi yang harus tanggal, kepergian itu pun tak bisa kusangkal. Dan kau juga pasti mengerti. Seperti pagi yang ikhlas melepas matahari. Seperti hitam dan abu-abu yang mengikuti…
31 Maret 2010 (15 Rabiul Akhir 1431 H)
Karena mereka tak kan merasa kehilangan. Karena telah cukup mereka memberiku naungan. Dan tentang segala yang ada padaku nanti juga kulepaskan.
Seperti halnya mimpi yang harus tanggal, kepergian itu pun tak bisa kusangkal. Dan kau juga pasti mengerti. Seperti pagi yang ikhlas melepas matahari. Seperti hitam dan abu-abu yang mengikuti…
31 Maret 2010 (15 Rabiul Akhir 1431 H)
Langganan:
Postingan (Atom)